Jumat, 13 Desember 2019

Tradisi Sekaten Dalam Budaya Masyarakat Surakarta


Tradisi Sekaten Dalam Budaya Masyarakat Surakarta


A. Sejarah Tradisi Sekaten Dalam Budaya Masyarakat Surakarta
            Indonesia adalah negara yang memiliki rata-rata jumlah penduduk sekitar 269 juta penduduk, dengan jumlah pulau 17.504 pulau dan 34 provinsi yang tentu dengan beragam suku, bahasa, ras dan budaya yang berbeda-beda. Adapun salah satu dari tradisi budaya yang saya angkat sebagai aset budaya daerah yang sampai sekarang masih diperingati oleh sebagian besar masyarakat Surakarta yang biasa disebut sebagai tradisi perayaan sekaten. Tradisi sekaten adalah tradisi dari dua Keraton dari Kerajaan Mataram, Ngayogyakarto Hadiningrat (Yogyakarta) dan Surakarta Hadiningrat (Solo).
            Upacara tradisional ini diadakan dalam rangka peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulud Nabi). Budaya yang masih dilestarikan sejak abad ke-16 ini biasa dilaksanakan pada bulan Rabi’ul Awwal tahun hijriyah atau bertepatan bulan Mulud (Bulan Jawa). Terdapat beragam pendapat yang berkaitan dengan penamaan Tradisi Sekaten. Pendapat yang populer adalah Sekaten berasal dari istilah bahasa arab “Syahadatain”. Istilah tersebut mewakili Dua Kalimat Syahadat dalam agama Islam. Dua kalimat yang dimaksud adalah syarat wajib bagi seseorang yang hendak memeluk Agama Islam. Kalimat ini memiliki pengertian “ aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah”.
            Selain itu ada pendapat lain jug yang mengatakan asal-usul istilah Sekaten berasal dari istilah-istilah lain, antara lain:
Ø  Sahutain dengan pengertian menghentikan atau menghindari perkaradua, yakni sifat lacur dan menyeleweng.
Ø  Sakhatain yang berarti menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan, karena watak tersebut sumber kerusakan.
Ø  Sakhotain bermakna menanamkan dua perkara, yaitu selalu memelihara budi suci tau budi luhur dan selalu menghambakan diri pada Tuhan.
Ø  Sekati berarti setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk.
Ø  Sekat berarti batas, orang hidup harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan kejahatan.

Tradisi Sekaten Merupakan Warisan budaya Islam di Tanah Jawa. Sebuah Tradisi yang dimulai sejak Zaman Demak, yakni Zaman Kerajaan  Islam setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi. Seperti yng telah diketahui bahwa Kebudayaan Jawa sebagian besar merupakan hasil akulturasi, tidak terkecuali Tradisi Sekaten. Terdapat Folklor yang berkembang dimasyarakat bahwa Upacara Sekaten adalah salah satu salah satu warisan nilai budaya yang dilaksanakan secara turun-temurun dari nenek moyang.
B. Pelaksanaan Tradisi Sekaten
            Dalam pelaksanaan Sekaten, baik yang ada di Yogyakarta maupun Surakarta selalu tidak bisa dilepaskan dari perangkat Gamelan milik kedua keraton tersebut. Di keraton Yogya, gamelan Sekaten terdiri dari dua perangkat, yakni gamelan Kyai Nogowilongo dan Kyai Guntur Madu. Sementara itu, di Keraton Surakarta terdapat dua perangkat gamelan yakni Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Sejak beberapa hari sebelum 12 Robiul Awwal (Maulud) gamelan akan dimainkan. Bedanya, di keraton Yogya, prosesi dimulai pada tanggal 6 Rabiul Awwal (Maulud), sedangkan di keraton Surakarta sehari lebih awal, yakni 5 Rabiul Awwal (Maulud).
            Dalam tradisi Sekaten , biasanya sejak sebulan sebelum Upacara Sekaten diadakan Pasar Malam Perayaan Sekaten. Kita juga bisa mendapati dua tradisi yang ikut meramaikan Upacara Sekaten yakni Tumplak Wajik dan Tradisi Grebeg. Tumplak Wajik adalah upacar pembuatan wajik (makana khas yang terbuat dari beras ketang dengan gula kelapa). Ini merupakan awal dari pembuatan pareden yang digunakan dalam upacara Garebeg.
            Adapun Tradisi Grebeg Muludan adalah puncak peringatan Sekaten yang dimulai sejak jam 08.00 pagi tanggal 12 Rabiul Awwal, bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.  
C. Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Tradisi Budaya Sekaten
Nilai yang terkandung dalam tradisi budaya Sekaten di Surakarta ini, lebih terbentuk dari unsur intrinsik yang mengandung nilai budaya, sosial, agama, ekonomi dan pendidikan. Tradisi Sekaten ini perlu penyebarluasan serta dokumentasi-dokumentasi agar kemurnian budaya aslinya tidak punah. Dengan mengusung slogan The Spirit Of Java seolah  semakin menguatkan nuansa adat dan tradisi yang masih kental di Surakarta. Surakarta memang masih menjaga baik adat budaya dan tradisi yang diwariskan para leluhur.
Banyak sekali nilai-nilai moral yang terkandung dalam perayaan Sekaten di Surakarta, diantaranya nilai agama, budaya, sosial, ekonomi dan pendidikan.
·         Nilai agama yang terkandung dalam perayaan  sekaten adalah bahwa orang zaman dulu menyukai gamelan maka pada saat perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW di Masjid diadakan penabuhan gamelan agar masyarakat tertarik. Jika masyarakat sudah berkumpul lalu diberi pelajaran tentang agama islam. Maka para walipun menciptakan seperangkat gamelan yang dinamakan Kyai sekati. Yang sampai saat ini masih dipukul saat perayaan hari kelahiran Nabi, gamelan di pukul di Masjid Agung.
·         Nilai sosial yang terkandung dalam perayaan sekaten Surakarta adalah bahwa sekaten ini memiliki aneka fungsi sosial bagi masyarakat Surakarta. Hal ini dapat dilihat dari agenda yang dilaksanakan dan menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Hiburan yang disiapkan panitia menjadi pemersatu sosial kemasyarakatan. Sekaten juga merupakan ajang interaksi sosial masyarakat. Dengan esensi memelihara perdamaian dan solidaritas.
Seiring perkembangan zaman, sekaten dimanfaatkan dalam sektor perdagangan. Sekaten sebagai ladang masyarakat untuk berdagang. Para pengunjung dapat membeli apapun di sekatenan, barbagai macam makanan, minuman, mainan, dan barang-barang lainnya. Sekaten memberi pemasukan devisa yang cukup besar bagi negara, khususnya bagi wilayah Surakarta.
Ditinjau dari nilai pendidikan, perayaan Sekaten dapat digunakan sebagai bahan ajar untuk mata pelajaran bahasa indonesia, sejarah. Peneliti dapat menjadikan Sekaten sebagai bahan penelitiannya, Sekaten ini adalah refrensi yang cukup sangat menarik untuk di bicarakan. Dinas pariwisata hendaknya memberi rekomendasi untuk menerbitkan buku tentang perayaan Sekaten.[1]




           





[1]Barokahnurazizah.blogspot.com


Tradisi Sekaten Dalam Budaya Masyarakat Surakarta

Tradisi Sekaten Dalam Budaya Masyarakat Surakarta A. Sejarah Tradisi Sekaten Dalam Budaya Masyarakat Surakarta             Indon...