Tradisi Sekaten Dalam Budaya Masyarakat Surakarta

A.
Sejarah Tradisi Sekaten Dalam Budaya Masyarakat Surakarta
Indonesia
adalah negara yang memiliki rata-rata jumlah penduduk sekitar 269 juta
penduduk, dengan jumlah pulau 17.504 pulau dan 34 provinsi yang tentu dengan
beragam suku, bahasa, ras dan budaya yang berbeda-beda. Adapun salah satu dari
tradisi budaya yang saya angkat sebagai aset budaya daerah yang sampai sekarang
masih diperingati oleh sebagian besar masyarakat Surakarta yang biasa disebut
sebagai tradisi perayaan sekaten. Tradisi sekaten adalah tradisi dari dua
Keraton dari Kerajaan Mataram, Ngayogyakarto Hadiningrat (Yogyakarta) dan
Surakarta Hadiningrat (Solo).
Upacara tradisional ini diadakan
dalam rangka peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulud Nabi). Budaya yang
masih dilestarikan sejak abad ke-16 ini biasa dilaksanakan pada bulan Rabi’ul
Awwal tahun hijriyah atau bertepatan bulan Mulud (Bulan Jawa). Terdapat beragam
pendapat yang berkaitan dengan penamaan Tradisi Sekaten. Pendapat yang populer
adalah Sekaten berasal dari istilah bahasa arab “Syahadatain”. Istilah tersebut
mewakili Dua Kalimat Syahadat dalam agama Islam. Dua kalimat yang dimaksud
adalah syarat wajib bagi seseorang yang hendak memeluk Agama Islam. Kalimat ini
memiliki pengertian “ aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi
Muhammad adalah utusan Allah”.
Selain itu ada pendapat lain jug
yang mengatakan asal-usul istilah Sekaten berasal dari istilah-istilah lain,
antara lain:
Ø Sahutain dengan pengertian menghentikan atau menghindari perkaradua, yakni
sifat lacur dan menyeleweng.
Ø Sakhatain yang berarti menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat
setan, karena watak tersebut sumber kerusakan.
Ø Sakhotain bermakna menanamkan dua perkara, yaitu selalu memelihara budi suci
tau budi luhur dan selalu menghambakan diri pada Tuhan.
Ø Sekati berarti setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai
hal-hal yang baik dan buruk.
Ø Sekat berarti batas, orang hidup harus membatasi diri untuk tidak
berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan kejahatan.
Tradisi Sekaten Merupakan Warisan budaya Islam di Tanah Jawa.
Sebuah Tradisi yang dimulai sejak Zaman Demak, yakni Zaman Kerajaan Islam setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit
pada tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi. Seperti yng telah diketahui bahwa
Kebudayaan Jawa sebagian besar merupakan hasil akulturasi, tidak terkecuali
Tradisi Sekaten. Terdapat Folklor yang berkembang dimasyarakat bahwa Upacara
Sekaten adalah salah satu salah satu warisan nilai budaya yang dilaksanakan
secara turun-temurun dari nenek moyang.
B. Pelaksanaan Tradisi Sekaten
Dalam pelaksanaan
Sekaten, baik yang ada di Yogyakarta maupun Surakarta selalu tidak bisa
dilepaskan dari perangkat Gamelan milik kedua keraton tersebut. Di keraton
Yogya, gamelan Sekaten terdiri dari dua perangkat, yakni gamelan Kyai
Nogowilongo dan Kyai Guntur Madu. Sementara itu, di Keraton Surakarta terdapat
dua perangkat gamelan yakni Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Sejak
beberapa hari sebelum 12 Robiul Awwal (Maulud) gamelan akan dimainkan. Bedanya,
di keraton Yogya, prosesi dimulai pada tanggal 6 Rabiul Awwal (Maulud),
sedangkan di keraton Surakarta sehari lebih awal, yakni 5 Rabiul Awwal
(Maulud).
Dalam tradisi
Sekaten , biasanya sejak sebulan sebelum Upacara Sekaten diadakan Pasar Malam
Perayaan Sekaten. Kita juga bisa mendapati dua tradisi yang ikut meramaikan
Upacara Sekaten yakni Tumplak Wajik dan Tradisi Grebeg. Tumplak Wajik adalah
upacar pembuatan wajik (makana khas yang terbuat dari beras ketang dengan gula
kelapa). Ini merupakan awal dari pembuatan pareden yang digunakan dalam upacara
Garebeg.
Adapun Tradisi
Grebeg Muludan adalah puncak peringatan Sekaten yang dimulai sejak jam 08.00
pagi tanggal 12 Rabiul Awwal, bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
C. Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Tradisi Budaya Sekaten
Nilai yang terkandung dalam tradisi budaya Sekaten di Surakarta
ini, lebih terbentuk dari unsur intrinsik yang mengandung nilai budaya, sosial,
agama, ekonomi dan pendidikan. Tradisi Sekaten ini perlu penyebarluasan serta
dokumentasi-dokumentasi agar kemurnian budaya aslinya tidak punah. Dengan
mengusung slogan The Spirit Of Java seolah
semakin menguatkan nuansa adat dan tradisi yang masih kental di
Surakarta. Surakarta memang masih menjaga baik adat budaya dan tradisi yang
diwariskan para leluhur.
Banyak sekali nilai-nilai moral yang terkandung dalam perayaan
Sekaten di Surakarta, diantaranya nilai agama, budaya, sosial, ekonomi dan
pendidikan.
·
Nilai
agama yang terkandung dalam perayaan
sekaten adalah bahwa orang zaman dulu menyukai gamelan maka pada saat
perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW di Masjid diadakan penabuhan gamelan
agar masyarakat tertarik. Jika masyarakat sudah berkumpul lalu diberi pelajaran
tentang agama islam. Maka para walipun menciptakan seperangkat gamelan yang
dinamakan Kyai sekati. Yang sampai saat ini masih dipukul saat perayaan hari
kelahiran Nabi, gamelan di pukul di Masjid Agung.
·
Nilai
sosial yang terkandung dalam perayaan sekaten Surakarta adalah bahwa sekaten
ini memiliki aneka fungsi sosial bagi masyarakat Surakarta. Hal ini dapat
dilihat dari agenda yang dilaksanakan dan menjadi daya tarik bagi wisatawan
domestik dan mancanegara. Hiburan yang disiapkan panitia menjadi pemersatu
sosial kemasyarakatan. Sekaten juga merupakan ajang interaksi sosial
masyarakat. Dengan esensi memelihara perdamaian dan solidaritas.
Seiring perkembangan zaman, sekaten
dimanfaatkan dalam sektor perdagangan. Sekaten sebagai ladang masyarakat untuk
berdagang. Para pengunjung dapat membeli apapun di sekatenan, barbagai macam
makanan, minuman, mainan, dan barang-barang lainnya. Sekaten memberi pemasukan
devisa yang cukup besar bagi negara, khususnya bagi wilayah Surakarta.
Ditinjau dari nilai pendidikan,
perayaan Sekaten dapat digunakan sebagai bahan ajar untuk mata pelajaran bahasa
indonesia, sejarah. Peneliti dapat menjadikan Sekaten sebagai bahan
penelitiannya, Sekaten ini adalah refrensi yang cukup sangat menarik untuk di
bicarakan. Dinas pariwisata hendaknya memberi rekomendasi untuk menerbitkan
buku tentang perayaan Sekaten.[1]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar